Minggu, 15 Maret 2015

Neighbour

 

waktu itu lagi nganterin anak-anak TK berenang di 'Jungle' swimmingpool sentul Bogor..... sepanjang jalan menuju kolam renang kita lewati perumahan  elite. pagarnya tinggi-tinggi. tanaman tertata rapi, rasanya nyaman banget deh tinggal disini. " ada yang kosong tuh, besok saya beli deh, kata temen disebelahku. wah, garasinya kegedean, khan nggak ada mobil, cuma motor doang. Gak jadi deh. Kalau lagi masak tiba-tiba kehabisan garam bisa nggak ya minta tetangga sebelah. Model pertemuan PKK nya kayak gimana ya. yach... pokoknya gara-gara melihat rumah-rumah elit jadi bicara pada ngaco.

Kadang jadi suudzon membayangkan pemilik rumah-rumah elit yang katanya gak bisa bersosialisasi antar tetangga. padahal diera digital saat ini seharusnya bisa memudahkan pertemuan antar warga. Di RT saya, undangan PKK masih menggunakan selembar kertas..... dilain kesempatan cukup menggunakan SMS, biar hemat kertas he...he...he..

Lain lagi diperumahan elit tapi model cluster, jadi nggak perlu pakai pagar tinggi lagi, cukup nyewa satpam di gerbang masuk perumahan. Menurut  temen, yang tinggal ditempat seperti ini lebih akrab antar tetangga. Mungkin karena nggak ada pembatas pagar. Jadi antar tetangga lebih mudah bertemu.

Tapi orang yang nggak suka bertentangga  bukan cuma diperumahan elit aja lho. Dipemukiman yang kumuh, perumahan sederhana juga pasti banyak. Sebagai contoh disebuah perumahan pinggiran depok nih. Si fulan  sudah lebih dari 20 tahun tinggal disitu. Suami istri memang super sibuk, jadi hari libur memang untuk keluarga aja, bukan untuk tetangga.  Ternyata ketika sakit, butuh tetangga juga.

Intinya, silaturahmi itu perlu dijalin antar tetangga, karena tetanggalah yang paling dekat untuk dimintai tolong . Meskipun kita bisa menghubungi polisi atau keluarga terdekat. Tentu butuh waktu untuk sampai ditempat yang dituju, belum lagi kalau kena traffict jam. Wah,  bisa bayangin waktu yang terbuang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar